Kurus Diluar, Gemuk Didalam!

Apa mungkin walaupun kita memiliki tubuh yang kurus, tapi ternyata kita masih bisa terkena resiko TOFI (Thin Outside, Fat Inside). Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Mari kita lihat:

 

Dari tabel ini kita semua jenis makanan yang kita konsumsi, akan membentuk kalori dalam tubuh. Dan kalori inilah yang menjadi tenaga bagi tubuh kita.

Ada 1 hal yang perlu diperhatikan, yaitu BTPP (Bahan Tambahan Pangan & Polutan): seperti yang banyak terdapat pada berbagai produk pabrikan yang memiliki pengawet, pewarna dan perasa yang sangat berbahaya bagi tubuh.

Berdasarkan penelitian dari Universitas Padjajaran Bandung, yang meneliti seluruh pasar ikan di Bandung, mereka menemukan bahwa tidak satupun tempat yang tidak menggunakan formalin / borax untuk mengawetkan ikan yang dijual. (1 Artikel Penilitian Univ Padjajaran).

Kenapa harus menggunakan formalin & borax?

Karena tidak mungkin cukup untuk mengawetkan ikan ataupun daging, hanya menggunakan es. Dan bayangkan berapa jauhnya ikan atau daging tersebut telah dibawa sampai pada akhirnya berada di pasar.

Melalui tabel diatas, kita juga dapat mengetahui bahwa untuk mendapatkan penyakit modern yang kita banyak kenal zaman ini, prosesnya cukup panjang, karena harus terjadi radang kronis terlebih dahulu.

Berikut ini tahapan terjadinya penyakit Kanker:

  1. Tahap Inisiasi: terjadi dalam hitungan detik / menit.
  2. Tahap promosi: terjadi sekitar 15-20 tahun -> belum ada gejala
  3. Tahan progresi: Mulai ada gejala nyeri

Lalu apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi?

Pastikan untuk selalu berfikir positif dan optimis, jangan sampai hormon kortisol meningkat dan membuat kita menjadi stress karena hal itu justru akan seperti memberi asupan makanan pada sel kanker tersebut.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa kesehatan bukanlah hanya tentang makanan, walaupun ini merupakan bagian yang sangat penting, tapi pola hidup sehat lainnya pun harus diperhatikan, seperti olahraga, istirahat, terpapar sinar matahari, dll.

Di zaman sekarang ini, Diet Ketovastosis sangat trend. Karena banyak terbukti dapat menurunkan berat badan. Tapi problemnya terjadi karena: Kalori diturunkan (Melalui mengurani atau bahkan menghilangkan karbohidrat) tetapi terus mengkonsumsi lemak. Dampaknya, maka lemak dan gula darah meningkat dan terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh.

Walaupun sebenarnya Diet Ketogenic sendiri digunakan untuk mengobati anak-anak yang mengidap epilepsi, itupun dengan perbandingan 50-60% karbohidrat, berbeda dengan diet keto umumnya yang hampir menghilangkan asupan karbohidrat.

Disaat kita menimbang berat badan, apa sih yang sebenarnya sedang ditimbang?
Berat badan kita terkandung dari:

  1. Lemak
  2. Otot
  3. Air
  4. Tulang

Lalu seperti apa kriteria dari TOFI (Thin Outside, Fat Inside) ini?

Bagaimana saya bisa tau apakah saya sedang terlihat kurus diluar sementara berlemak didalam?

Salah satu cara paling ampuh untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan pengecekan di rumah sakit. Namun ada beberapa hal yang bisa menjadi perhitungan untuk mengetahui apakah kita sedang mengalami TOFI.

Kriteria TOFI:

Memiliki 3 komponen (dari 5) Metabolik Normal

  • Lingkar perut ( >80 atau 90 cm)
  • Tekanan Darah ( > 130/85)
  • GDP (Gula Darah Puasa) ( >100mg / dl)
  • HDL ( >40 atauu 50 mgdl)
  • TG (> 150 mg/dl)

Mengapa TOFI berbahaya?

Karena kurus diluar, dan gemuk (kadar fat) didalam dapat menyebabkan kerentanan dalam tubuh.

Lalu apa solusinya?

  1. Tingkatkan masa otot

    Hal ini sangatlah penting karena otot bahkan dapat membantu disaat terjadi radang. Diruang ICU, dalam situasi kritis, orang yang memiliki masa otot yang lebih besar akan menolongnya untuk selamat.

  2. Kualitas Diet yang Baik

    Pastikan mengkonsumsi sayur-sayuran, karena ada kandungan yang bermanfaat yang tidak terdapat pada daging. Sayur dan buah-buahan juga sering dihubungkan untuk menurunkan resiko dari berbagai penyakit.